SINTANG – Kepala Desa Nyangkom, Albertus Herkolanus, menegaskan pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi adat sebagai bagian dari identitas serta kekuatan sosial masyarakat. Hal ini disampaikannya dalam kegiatan Belabor ke Bungo Buah yang dilaksanakan masyarakat Dusun Nyangkom pada 29 Maret 2026 di Tembawang Engkabang Ramai.
Sebelum pelaksanaan kegiatan, masyarakat terlebih dahulu menggelar musyawarah atau mupakat untuk menentukan waktu pelaksanaan acara. Dalam forum tersebut, warga juga bersepakat mengumpulkan dana sumbangan secara sukarela sebesar Rp20 ribu per kepala keluarga. Dana tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan perancah atau perlengkapan adat yang akan digunakan dalam prosesi.
Di wilayah Dusun Nyangkom sendiri terdapat beberapa tembawang yang memiliki nilai sejarah dan makna tersendiri bagi masyarakat setempat. Namun, untuk pelaksanaan tradisi tahun ini dipusatkan di Tembawang Engkabang Ramai karena lokasinya mudah diakses, tidak jauh dari permukiman warga, serta memiliki kawasan yang cukup luas untuk menampung seluruh rangkaian kegiatan.
Menurut Albertus, proses musyawarah dan partisipasi sukarela ini mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan dan demokrasi lokal di tengah masyarakat. Ia menilai, keterlibatan aktif warga sejak tahap perencanaan menjadi salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan tradisi.
“Tradisi adat ini tetap berjalan selaras dengan kehidupan masyarakat saat ini, serta tetap menjunjung tinggi kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ini menunjukkan bahwa adat dan nilai keimanan dapat berjalan berdampingan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tembawang, termasuk Tembawang Engkabang Ramai, merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat. Selain sebagai peninggalan leluhur yang harus dijaga, kawasan tersebut juga menjadi sumber kehidupan yang dimanfaatkan secara bersama dan adil oleh warga.
Albertus juga mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat dalam menyiapkan seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari pengumpulan bahan hingga pelaksanaan doa adat. Menurutnya, nilai kebersamaan seperti ini perlu terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan komitmen pemerintah desa dalam mendukung kegiatan adat sebagai bagian dari pembangunan sosial dan budaya.
“Kami di pemerintah desa akan terus mendukung kegiatan adat seperti ini, karena ini adalah bagian dari jati diri masyarakat. Selain itu, tradisi ini juga memperkuat persatuan serta menjadi ruang untuk menanamkan nilai-nilai positif kepada generasi muda,” tambahnya.
Melalui momentum Belabor ke Bungo Buah, Albertus berharap masyarakat dapat terus menjaga warisan leluhur sekaligus menyesuaikannya dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai dasarnya. Tradisi ini menjadi contoh bahwa kearifan lokal dapat terus hidup dan berkembang secara harmonis di tengah kehidupan modern.












