Banjir di Kayan Hilir Masih Bertahan, Ribuan Warga Terdampak

SINTANG — Banjir yang melanda Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, hingga kini masih bertahan meski di beberapa wilayah ketinggian air mulai berangsur surut secara perlahan. Curah hujan yang masih tinggi dalam beberapa hari terakhir, ditambah kiriman air dari wilayah hulu sungai, menjadi penyebab utama meluasnya banjir di sejumlah desa.

Camat Kayan Hilir, Seberius Matius Akon mengatakan kondisi banjir saat ini belum sepenuhnya membaik karena debit air masih cukup tinggi di beberapa titik.

“Untuk kondisi hari ini banjir masih bertahan. Ada beberapa tempat yang sudah mulai surut, tapi pelan sekali,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (19/5/2026).

Menurutnya, hampir seluruh desa di Kecamatan Kayan Hilir merasakan dampak banjir. Bahkan desa yang tidak terendam secara langsung tetap mengalami hambatan akses transportasi akibat tingginya permukaan air dan terputusnya jalur penghubung antarwilayah.

“Sekitar 95 persen desa di Kayan Hilir terdampak semua. Walaupun ada desa yang tidak terlanda banjir, aksesnya tetap terhambat,” katanya.

Ia menjelaskan, banjir mulai terjadi sejak 13 Mei 2026 dan hingga kini masih merendam sejumlah kawasan permukiman warga. Ribuan kepala keluarga disebut terdampak, meski proses pendataan masih terus dilakukan oleh pemerintah desa bersama pihak kecamatan.

Selain permukiman warga, sejumlah fasilitas umum juga ikut terdampak banjir, termasuk sekolah tingkat SD, SMP hingga SMA. Meski demikian, sejauh ini belum dilaporkan adanya kerusakan berat pada bangunan sekolah maupun fasilitas pendidikan lainnya.

Dalam upaya penanganan, pemerintah kecamatan bersama pemerintah desa terus melakukan pemantauan lapangan dan mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap kemungkinan banjir susulan. Warga juga diminta meningkatkan semangat gotong royong dan saling membantu selama masa bencana berlangsung.

“Kami selalu monitor bersama kepala desa, meminta masyarakat tetap waspada dan siaga. Pemerintah desa dan kecamatan juga diharapkan standby untuk saling membantu warga,” ujarnya.

Namun demikian, pihak kecamatan mengaku masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan, terutama keterbatasan sarana transportasi sungai dan anggaran operasional untuk menjangkau wilayah terdampak.

“Kendala terbesar tidak ada kendaraan sungai untuk monitor lapangan. Selain itu keterbatasan anggaran, banyaknya warga terdampak, dan akses yang terputus membuat pemantauan belum maksimal,” katanya.

Pemerintah kecamatan saat ini juga terus mengupayakan bantuan logistik bagi masyarakat terdampak banjir serta berharap adanya dukungan tambahan dari pemerintah daerah agar penanganan bencana dapat berjalan lebih cepat dan efektif.

Editor: PRD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *